Umar bin Al Khththab radhiyallahu 'anhu berkata :
أنَّ رَجُلًا علَى عَهْدِ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ اسْمُهُ عَبْدَ اللَّهِ، وكانَ يُلَقَّبُ حِمَارًا، وكانَ يُضْحِكُ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وكانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ قدْ جَلَدَهُ في الشَّرَابِ، فَأُتِيَ به يَوْمًا فأمَرَ به فَجُلِدَ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ: اللَّهُمَّ العنْه، ما أكْثَرَ ما يُؤْتَى بهِ؟ فَقَالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: لا تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ ما عَلِمْتُ إنَّه يُحِبُّ اللَّهَ ورَسولَهُ
"Bahwasannya ada seorang laki - laki di zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam namanya abdullah, dan dia dijuluki himar ( keledai ). Dia suka membuat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam tertawa. Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah mencambuknya karena minum khamr. Pada suatu hari dia dibawa lagi kepada beliau karena minum khamr lagi, maka beliau memerintahkan untuk dicambuk, dan diapun dicambuk. Lalu ada seorang laki - laki berkata : " Ya Allah, laknatlah dia ( jauhkan dia dari rahmat - Mu ), betapa seringnya dia dicambuk karena minum khamr!" Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam pun bersabda :"Janganlah kalian melaknatnya, demi Allah, apa yang aku ketahui sungguh dia itu mencintai Allah dan Rasul - Nya." ( HR. Bukhari no. 6780 dan Al Baghawi dalam Syarhussunnah : 10/337 ).
Sesungguhnya maksiat adalah penyakit jiwa dan hati manusia. Sebagaimana fisik kita pun bisa sakit, maka hati kita pun bisa sakit karena maksiat dan dosa. Ketika kita melihat penyakit fisik yang menimpa orang lain, maka kita pun bersyukur karena penyakit tersebut tidak menimpa diri kita karena betapa sayang dan cintanya kita terhadap kesehatan diri kita.
Seharusnyalah ketika kita melihat dosa - dosa manusia janganlah kita memposisikan diri kita sebagai Tuhan, tapi posisikanlah diri kita sebagai hamba seperti mereka. Seharusnyalah kita merasa kasihan terhadap mereka yang diuji dengan dosa - dosa dan memuji Allah karena telah menjaga kita darinya. Demi Allah, seseorang tidak akan mampu untuk istiqamah karena kehebatannya, akan tetapi Allah lah yang memberikan taufiq untuk taat kepada - Nya dan menjaganya dari perbuatan dosa dan maksiat.
Kemudian, setiap kita pun memiliki dosa dan maksiat yang tidak nampak dihadapan manusia karena Allah telah menutupinya. Maka diantara etika yang harus ada pada diri kita adalah tidak membuka serta mencela aib dan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain. Agar Allah tidak membongkar aib kita juga. Karena balasan itu sesuai dengan perbuatan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :
يا مَعشرَ مَن أسلمَ بلِسانِهِ ولم يُفضِالإيمانُ إلى قلبِه، لا تُؤْذُوا المُسلِمينَ، ولا تُعَيِّروهم، ولا تتَّبِعوا عَوْراتِهم؛ فإنَّه مَن تتَبَّع عَوْرةَ أخيه المسلِمِ تتَبَّع اللهُ عورتَه، ومَن تتَّبَع اللهُ عَورتَه يَفْضَحْهُ ولو في جَوفِ رَحلِه
“Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya padahal iman itu belum masuk ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin! Janganlah menjelekkan mereka! Jangan mencari-cari kekurangan mereka! Sebab, barang siapa mencari-cari kekurangan saudaranya yang muslim, niscaya Allah akan mencari-cari kekurangannya. Barang siapa yang Allah cari-cari kekurangannya, niscaya Allah akan membongkar aibnya dan mempermalukannya, walaupun dia berada di dalam rumahnya.” (HR. Tirmidzi no. 2032, Ibnu Hibban no. 5763, dari jalan Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma).
Perkataan ini bukanlah untuk membenarkan kemaksiatan, tidak juga mendorong untuk melakukannya, atau meremehkannya. Akan tetapi untuk merubah cara pandang kita terhadap orang - orang yang berbuat dosa di kalangan kaum muslimin.
Setiap manusia memiliki benih kebaikan. Maka janganlah membebani diri kita sebagai hakim dan sebagai para pemegang kunci surga dan neraka.
Misalnya shalat, kita tahu shalat adalah tiangnya agama, bahkan perkara yang pertama kali seorang hamba akan dihisab kelak di hari kiamat. Akan tetapi, sering kita melihat orang yang tidak shalat ketika Nabinya dihina, maka dia pun bangkit melakukan pembelaan bahkan dengan jiwa dan raganya karena cinta kepada Nabinya. Apakah orang seperti ini akan kita katakan kepadanya :"Cintamu dusta, karena engkau tidak shalat!"
Alangkah baiknya jika kita katakan kepadanya :"Betapa hebatnya cintamu kepada Nabi! Andai engkau sertai cintamu ini dengan sujud kepada Allah melaksanakan shalat, betapa indahnya cintamu!"
Terlebih, mencintai adalah hak siapa saja, termasuk orang seperti Abu Thalib yang tidak beriman kepada Allah. Apalagi hanya sebatas ahli maksiat.
Orang yang dikalahkan oleh hawa nafsunya adalah orang yang sedang diuji dan dihiasi perbuatan buruknya oleh syetan. Yang harus kita lakukan adalah memegang tangannya dan menuntunnya dengan lemah lembut agar kembali kepada Allah, bukan membantu syetan untuk menghancurkannya. Betapa banyak kelemah lembutan baik perkataan ataupun perbuatan bisa menarik manusia kembali kepada Allah.
Tidak kita dapati dosa yang paling besar selain syirik ( menyekutukan Allah ). Sekalipun begitu, Allah memerintahkan Nabi - Nya untuk berlemah lembut kepada kaumnya yang menyekutukan Allah.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." ( QS. Ali Imran : 159 ).
Betapa durhakanya fir'aun yang mengaku sebagai tuhan yang paling tinggi. Akan tetapi Allah memerintahkan Musa dan Harun 'alaihimassalaam agar mengajaknya dengan lemah lembut.
فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." ( QS. Thaha : 44 ).
Lalu bagaimanakah dengan orang - orang yang telah mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallahu muhammadurrasulullah?
Nabi Shallallahu 'alahi wa Sallam bersabda :
إِنَّالرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيءٍ إِلاَّ شَانَهُ
"Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan menjadikannya jelek." ( HR. Muslim no. 2594 dari jalan Aisyah ).
Dalam redaksi lain :
مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ
"Barangsiapa yang dihalangi dari sifat lembut, maka dia dihalangi dari kebaikan." ( HR. Muslim no. 2592 dari jalan Jabir bin Abdillah ).
Terakhir, dalam sebuah atsar disebutkan :
عير أخاه بذنب لم يمت حتى يعمله
"Barangsiapa yang mengolok - olok saudaranya karena sebab perbuatan dosa, maka tidaklah dia mati hingga dia melakukan dosa yang sama." ( HR. At Tirmidzi no. 2429, dan hadits ini dhoif sekali bahkan maudhu' atau palsu ).
Ibnul Qayyim Al Jauziyyah berkata :
وكل معصية عيرت بها أَخاك فهي إِليك
"Dan setiap maksiat yang engkau perolokan kepada saudaramu maka ia akan kembali kepadamu.”
( Madarijussalikin : 1/195 ).
Wallahu A'lam.
Saudara seiman,
Dadan Rahmatun Ramdan
Kuningan - Jawa Barat.
Comments
Post a Comment