Sifat Malu berbuah Kebaikan
فَجَاۤءَتْهُ اِحْدٰىهُمَا تَمْشِيْ عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍۖ
"Lalu, datanglah kepada Musa salah seorang dari keduanya itu sambil berjalan dengan malu-malu." ( QS. Al Qashshas : 25 ).
Wanita hebat ini berjalan, tapi bukan berjalan diatas karpet merah, dia berjalan diatas permadani sifat malu.
Al Qur'an tidak mengabarkan kepada kita tentang kecantikannya, karena kecantikan akan sirna.
Al Qur'an tidak menyampaikan kepada kita akan postur tubuhnya, karena tubuh yang molek dan bagus kelak hanya menjadi makanan cacing - cacing tanah.
Al Qur'an menceritakan kepada kita tentang jauh yang lebih indah dari itu semua, yaitu sifat malu, terlebih pada diri seorang wanita.
Sifat malu adalah riasan yang mempesona pada diri seorang manusia.
Sifat malu adalah kehidupan bagi hati seorang hamba.
Sifat malu adalah benteng dari perkara - perkara yang tercela.
Sifat malu adalah penyebab datangnya berbagai kebaikan.
Sang Kekasih Shalallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :
الحياء لا يأتي إلا بخير
"Sifat malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan." (H.R. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 38 dari jalan Imran bin Hushain )
Bahkan sifat malu bagian dari iman itu sendiri.
Sang Kekasih bersabda :
الْحياء و الإيمان قرنا جميعا، فإذا رفع أحدهما رفع الاَخر
"Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya." [ HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak : 1/22, Ath Thabarani dalam Al Mu'jam Ash Shaghir : 1/223 dan yang lainnya ].
Hari ini, sifat malu seperti tanah yang mengalami erosi. Sudah terkikis bahkan secara massive di tengah ummat ini.
Bahkan rusaknya moral serta meninggalkan kewajiban agama merupakan sebuah fenomena yang dibanggakan dan disyiarkan dengan tidak merasa bersalah atas apa yang dilakukan, baik dikalangan pejabat ataupun masyarakat.
Benarlah kata Sang Kekasih :
إذا لم تستحي فاصنع ما شئت
"Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu." [ HR. Bukhari no. 6120 dari jalan Abdullah bin Mas'ud ].
Syaikh Muhammad Ali Ash Shabuni berkata :
و فيه بيان فضيلة الحياء، لأنه يزجر الإنسان و يكفه عن فعل القبيح. و فيه أن من فقد الحياء، لم يبق فيه شيء من الخير، فليفعل ما يشاء، فقد سقط من مرتبة الإنسانية إلى درجة البهيمية
"Dalam hadits ini ada penjelasan keutamaan sifat malu. Karena ia akan mencegah seorang insan dan menahannya dari berbuat keburukan. Dan di dalamnya ada pelajaran bahwasannya orang yang kehilangan sifat malu, maka tidak tersisa sedikitpun padanya dari kebaikan, lalu diapun berbuat sesuai apa yag dia inginkan. Maka sungguh dia telah terjatuh dari martabat kemanusiaan kepada derajat kebinatangan." [ Ad Durar Wal Lali bi Syarhi Shahihi Al Bukhari : 5/366 - 367, maktabah al ashriyyah - beirut ].
Celakalah orang yang kehilangan sifat malu dan rusaklah urusan dunia dan akhiratnya. Terlebih kehilangan sifat malu terhadap penciptanya Allah 'Azza wa Jalla. Padahal memiliki rasa malu terhadap Allah adalah kesempurnaan kebaikan.
Abu Sulaiman Ad Darani berkata :
إذا استحيى العبد من ربه فقد استكمل الإيمان
"Jika seorang hamba malu kepada Tuhannya, maka sungguh telah sempurnalah iman." [ Tahdzib Hilyah Al Auliya : 3/183 ].
Saudara seiman,
Dadan Rahmatun Ramdan
Kuningan - Jawa Barat.
Comments
Post a Comment